Taman Kata: Menumbuhkan Kemandirian dan Kemampuan Bahasa SiswaSMALB Negeri Kota Dumai melalui Pengalaman Nyata

Dumai – Menjadi pendidik di Sekolah Luar Biasa (SLB) adalah sebuah perjalanan belajar tentang kesabaran dan makna kehidupan. Bagi Rimi Kalteza, S.Pd., guru di SLB Negeri Kota Dumai, mengajar siswa dengan hambatan pendengaran (tunarungu) di tingkat SMALB memberikan tantangan tersendiri, terutama dalam mengasah kemampuan berbahasa Indonesia sebagai jembatan komunikasi mereka dengan dunia.

Menjembatani Bahasa Melalui Pengalaman Konkret

Kemampuan menyusun kalimat sederhana secara bermakna sering kali menjadi kendala bagi siswa tunarungu. Tanpa pengalaman nyata, struktur bahasa terasa abstrak dan sulit dipahami. Minimnya kosa kata dan keterbatasan pemahaman konteks membuat siswa sering kali hanya sekadar meniru tulisan di papan tulis tanpa benar-benar memahaminya secara mendalam.

Menyadari pentingnya lingkungan yang mendukung aktivitas luar ruangan, Rimi menghadirkan inovasi bertajuk Taman Kata. Inovasi ini mengubah area sekolah menjadi ruang belajar hidup (living classroom). Melalui kegiatan menanam dan merawat taman, siswa dilibatkan secara aktif untuk menghubungkan benda nyata dengan konsep bahasa melalui pengamatan langsung.

Kolaborasi dan Sinergi Warga Sekolah

Mewujudkan Taman Kata merupakan hasil dari kerja keras dan kolaborasi erat di lingkungan sekolah. Rimi membangun sinergi dengan rekan sejawat, petugas keamanan, hingga orang tua siswa untuk bahu-membahu menata lingkungan belajar yang lebih edukatif.

Keterlibatan siswa bahkan dimulai sejak tahap persiapan melalui pengelolaan organisasi kelas yang demokratis. Dengan memberikan tanggung jawab dalam struktur organisasi kelas, siswa belajar tentang kepemimpinan dan rasa kepemilikan terhadap ruang belajar yang mereka bangun bersama.

Harmoni Alam dan Teknologi Digital

Pembelajaran di Taman Kata dilakukan melalui pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning). Setelah berinteraksi langsung dengan tanaman, siswa diajak merefleksikan pengalaman tersebut melalui media interaktif Wordwall. Stimulus visual berupa gambar dan permainan bahasa seperti “Susun Kalimat” membantu mereka memahami struktur subjek dan predikat dengan cara yang menggembirakan.

“Saat mereka menulis kalimat di Wordwall tentang tanaman mereka sendiri, saya menyadari bahwa mereka bukan hanya belajar menulis, melainkan sedang membangun kepercayaan diri,” ujar Rimi.

Hasil Nyata: Tumbuhnya Karakter dan Kemandirian

Inovasi “Taman Kata” terbukti memberikan dampak positif. Siswa kini mampu menyusun kalimat sederhana yang lebih bermakna karena didasari oleh pengalaman emosional dan motorik yang mereka rasakan langsung.

Selain peningkatan aspek kognitif, kegiatan ini turut menanamkan nilai-nilai karakter seperti kreatif, gotong royong, dan cinta lingkungan. Taman Kata telah membuktikan bahwa keterbatasan fisik dapat diatasi dengan kreativitas dan metode pembelajaran yang kontekstual, menjadikan setiap proses belajar di SLB Negeri Kota Dumai lebih bermakna dan penuh harapan.