Sunyi Coffee dan “Ruang Kerja” Setara untuk Pekerja Disabilitas

Jakarta, Ditjen Vokasi PKPLK – Jika ada kafe yang 100 persen karyawannya adalah penyandang disabilitas, itu adalah Sunyi Coffee. Sejak awal didirikan pada 2019 lalu, coffee shop ini memang diniatkan tidak hanya untuk tujuan komersial semata, tetapi juga sebagai sebuah wirausaha sosial dengan memberdayakan kalangan disabilitas, khususnya tunarungu.

“Saat ini, bisa dibilang 100 persen karyawan kami adalah disabilitas, tunarungu,” kata Chief Operational Sunyi Coffee, Fernaldo Garcia, saat acara Gelar Wicara bertema “Inklusivitas Ruang dan Peluang Kerja Penyandang Disabilitas” pada rangkaian Gelar Karya Vokasi PKPLK 2025 di Jakarta beberapa waktu lalu. 

Menurut Aldo, sapaan Fernaldo Garcia, Sunyi Coffee memang didirikan dengan komitmen menghadirkan kesetaraan kesempatan kerja antara pekerja disabilitas dan nondisabilitas. 

Coffee shop menang sangat banyak saat itu. Tapi, kami mencari apa yang membedakan coffee shop kami dengan yang lainnya dan salah satunya adalah ini (wirausaha sosial, red),” kata Aldo. 

Awalnya, beberapa tenaga kerja yang direkrut yang merupakan penyandang disabilitas sempat menyangsikan niatan Aldo dan teman-temannya. Mereka takut disabilitasnya hanya dimanfaatkan untuk bisnis semata. Namun, seiring waktu anggapan tersebut bisa ditepis. Mereka justru sangat antusias dan memiliki komitmen tinggi dalam bekerja.

“Kami benar-benar komitmen dan kami juga memberikan pelatihan bagi para mereka. Mereka sangat antusias dan komitmen dengan pekerjaan mereka,” ujar Aldo. 

Aldo percaya, penyandang disabilitas memiliki kemampuan yang setara dengan pekerja lainnya. Hal tersebut terjadi jika disabilitas diberikan dukungan yang memadai. 

Oleh karena itulah, untuk memastikan aksesibilitas yang tepat, Aldo terus berkolaborasi dengan sejumlah pihak untuk memenuhi kebutuhan para pekerja disabilitas ini, termasuk berdiskusi intens dengan komunitas disabilitas. Bahkan, tim yang terlibat juga harus mempelajari bahasa isyarat agar komunikasi dengan karyawan yang disabilitas ini dapat berjalan efektif. 

“Kami harus berdiskusi dengan komunitas agar bisa menghadirkan cafe yang benar-benar bisa mengakomodasi dan ramah disabilitas ini,”  tuturnya. 

Aldo mengakui bahwa pihaknya harus melakukan berbagai adaptasi untuk mendukung pekerja disabilitas agar nyaman bekerja di lingkungan kerja tersebut. Hal tersebut tidak hanya mulai dari bagaimana cara berkomunikasi, tetapi juga berbagai hal, bahkan hingga fasilitas fisik agar seluruh karyawan dapat bekerja secara optimal. 

Bagi Aldo, ia dan timnya berupaya mematahkan stigma yang selama ini masih melekat terhadap pekerja disabilitas di dunia kerja. Ia percaya bahwa penyandang disabilitas memiliki kemampuan yang sama jika diberikan akses yang sama sehingga stigma yang ada selama ini bisa dipatahkan.

“Bagi kami setiap individu dinilai berdasarkan kapasitas dan potensinya, bukan pada keterbatasan yang dimiliki,” ujar Aldo.

Sumber: vokasi.kemendikdasmen.go.id