My Totebag, My Income: Menumbuhkan Jiwa Wirausaha di Kelas Inklusi

Payakumbuh – Dunia pendidikan inklusi bukan sekadar ruang belajar bersama; ia adalah ruang untuk tumbuh, saling percaya, dan berbagi harapan. Di tengah keberagaman siswa, tersimpan potensi besar yang sering kali tersembunyi di balik keterbatasan fisik maupun kognitif. Anak berkebutuhan khusus (ABK), dengan segala keistimewaannya, memiliki hak dan kemampuan yang sama untuk menjadi kreator, pemimpin, bahkan wirausahawan sejak dini.

Penerapan praktik baik bertajuk “My Totebag, My Income” hadir sebagai upaya menumbuhkan jiwa kewirausahaan melalui pembelajaran kreatif yang aplikatif dan menyenangkan di kelas inklusi. Program ini membimbing anak-anak istimewa untuk menemukan jalan mandiri secara ekonomi melalui karya nyata.

My Totebag: Kreativitas di Atas Kanvas

Kegiatan ini bertujuan mengembangkan keterampilan motorik halus, ekspresi seni, dan jiwa kewirausahaan siswa melalui pembuatan tas belanja (totebag) berbahan kanvas. Sebagai produk fesyen yang praktis dan ramah lingkungan, totebag menjadi media yang sangat efektif untuk menuangkan ide desain orisinal siswa.

Dalam pelaksanaannya, siswa menggambar langsung di atas permukaan kanvas menggunakan cat tekstil, spidol kain, atau akrilik yang aman. Proses dimulai dari pembuatan sketsa ide di atas kertas, dilanjutkan dengan penggambaran pada tas, hingga tahap pewarnaan akhir. Pendidik berperan sebagai fasilitator dengan melakukan penyesuaian alat bantu, seperti:

  • Kuas berukuran besar untuk siswa dengan hambatan motorik halus.
  • Penggunaan stensil (pola bantu) bagi siswa dengan tantangan visual atau kognitif.

Pendekatan ini tidak hanya mendorong kreativitas, tetapi juga membangun rasa percaya diri dan rasa kepemilikan (sense of ownership) atas karya yang mereka hasilkan.

My Income: Literasi Digital dan Kemandirian

Setelah tahap produksi selesai, kegiatan dilanjutkan dengan pengenalan praktik jual beli secara digital. Berdasarkan panduan UNESCO (2020), literasi digital merupakan kompetensi abad ke-21 yang wajib dikuasai oleh seluruh peserta didik, termasuk ABK.

Siswa dibimbing untuk memublikasikan karya mereka melalui platform media sosial dan lokapasar (marketplace) seperti Instagram, Shopee, atau TikTok. Melalui pengalaman langsung ini, siswa belajar mengenai konsep jenama pribadi (personal branding), pemasaran, dan komunikasi visual.

Salah satu praktik yang paling memberdayakan adalah sesi siaran langsung jualan (live selling) melalui fitur TikTok Live. Dalam suasana yang inklusif, siswa didampingi oleh guru dan teman sebaya untuk memperkenalkan produk dan menjelaskan proses pembuatannya. Praktik ini terbukti efektif meningkatkan keberanian berbicara di depan umum serta keterampilan sosial yang sering kali menjadi tantangan bagi ABK.

Kolaborasi sebagai Kekuatan

Dalam ekosistem inklusi, kolaborasi antara siswa ABK dan non-ABK (rekan sebaya) menjadi faktor penguat yang signifikan. Lingkungan yang suportif ini memungkinkan setiap anak merasa dihargai dan memiliki peran penting dalam proses bisnis kecil mereka. Sesuai dengan penelitian Andrews & Lupart (2000), interaksi antar-rekan sebaya dalam kelas inklusi mampu meningkatkan partisipasi sosial dan pembentukan identitas diri yang positif.

Setiap anak mampu, dan setiap anak kaya akan karya serta makna. Melalui “My Totebag, My Income”, kita tidak hanya mengajarkan cara menghasilkan uang, tetapi juga membuka jalan menuju kemandirian dan keberdayaan bagi masa depan mereka.