Dari Yordania, Seperti Ini Sejarah Al-Qur’an Braille

Jakarta, Ditjen Vokasi PKPLK – Bulan Ramadan biasanya banyak dimanfaatkan orang untuk meningkatkan aktivitas ibadah, salah satunya membaca Al-Qur’an. Lantas, bagaimana dengan penyandang disabilitas? Al-Qur’an Braille menjadi solusinya.

Di sekolah-sekolah luar biasa (SLB), Al-Qur’an Braille biasanya diajarkan kepada para murid-murid tunanetra. Dari Al-Qur’an Braille ini tak jarang banyak anak-anak disabilitas yang justru berkembang hingga menjadi penghafal Al-Qur’an, misalnya Kayla Nur Sahwa, alumni SLB-A Pembina Tingkat Nasional Jakarta.

Namun, sebenarnya bagaimana sejarah Al-Qur’an Braille? Dikutip dari berbagai sumber, Al-Qur’an Braille di Indonesia diperkirakan sejak tahun 1954 ketika Lembaga Penerbitan dan Perpustakaan Braille Indonesia (LPPBI) menerima kiriman Al-Qur’an Braille dari Unesco. Al-Qur’an Braille yang dikirim sendiri merupakan terbitan Yordania tahun 1952.

Keterlibatan Unesco dalam proses distribusi Al-Qur’an Braille tersebut, selain karena mempunyai jaringan yang luas di seluruh dunia, juga tidak lepas dari perannya sebagai salah satu lembaga PBB di bidang pendidikan dan kebudayaan yang ikut mengawal perkembangan penggunaan Braille sebagai media tulis baca bagi tunanetra.

Peran penting Unesco dalam perkembangan penggunaan Braille bagi tunanetra di dunia Islam adalah keberhasilannya turut mengantarkan terwujudnya uniformisasi atau standardisasi penggunaan simbol Braille Arab. Sejak itulah, berbagai karya dalam bahasa Arab ditranskrip ke dalam simbol Braille Arab, tidak terkecuali Al-Qur’an.

Peran penting Unesco dalam perkembangan penggunaan Braille bagi tunanetra di dunia Islam adalah keberhasilannya turut mengantarkan terwujudnya uniformisasi atau standardisasi penggunaan simbol Braille Arab. Sejak itulah, berbagai karya dalam bahasa Arab ditranskrip ke dalam simbol Braille Arab, tidak terkecuali Al-Qur’an.

Dalam perkembanganya, pada tahun 1956 Al-Qur’an Braille ini dibawa ke Yogyakarta, daerah yang dianggap cukup potensial bagi kegiatan ketunanetraan saat itu. Al-Qur’an ini kemudian diserahkan kepada Supardi Abdushomad untuk dipelajari. Supardi sendiri merupakan seorang tunanetra yang telah menguasai tulisan Braille Latin Indonesia, namun belum mengenal Braille Arab sebagaimana yang digunakan dalam Al-Qur’an Braille Yordania tersebut.

Namun, pengalaman Supardi yang pernah belajar Al-Qur’an di Pesantren Krapyak menjadi modal penting untuk dapat mengungkap Al-Qur’an Braille dari Yordania ini. Dibantu dua orang temannya, Supardi mulai melakukan eksperimen untuk membaca al quran tersebut. Surah yang pertama kali berhasil dibaca adalah Surah Yāsīn, surah yang memang telah dihafal Supardi secara musyafahah di Pesantren Krapyak.

Dalam jangka waktu yang tidak lama, seluruh ayat dalam naskah Al-Qur’an Braille Yordania tersebut akhirnya dapat dibaca dan kemudian mulai diajarkan kepada tunanetra lainnya, tetapi saat itu masih terbatas. Hingga akhirnya terus berkembang.

Keberhasilan Supardi dan beberapa temannya mengungkap sistem tulisan dalam Al-Qur’an Braille Yordania sehingga bisa dibaca dan diajarkan merupakan capaian monumental, sekaligus membuka harapan baru bagi para tunanetra muslim Indonesia terhadap pembaharuan metode pembelajaran Al-Qur’an. Pembelajaran Al-Qur’an yang sebelumnya bertumpu pada metode simā’i (mendengarkan dari orang lain), dengan kehadiran sistem Braille, kemudian beralih ke metode membaca (qirā’ah) dan menulis (kitābah).

Sistem Braille ini terbukti mampu membuat tunanetra muslim dapat lebih mandiri dalam membaca Al-Qur’an. Dalam perkembangan selanjutnya, keinginan atau ekspektasi para tunanetra muslim untuk segera mempunyai Al-Qur’an Braille begitu tinggi sehingga mendorong lahirnya inisiatif untuk melakukan penyalinan.

Sumber: vokasi.kemendikdasmen.go.id