Depok, Ditjen Vokasi PKPLK – Karya anak berkebutuhan khusus (ABK) rasanya selalu memiliki nilai lebih di mata masyarakat, bahkan kerap membuat orang nyaris tidak percaya. Setidaknya inilah yang terjadi pada boneka Selly, sebuah karakter boneka karya siswa-siswi SLB Eka Mandiri, Kota Batu, Jawa Timur. Boneka ini malah pernah diekspor ke Singapura dan mendapat buyer/pembeli dari ke sejumlah negara.
Boneka Selly merupakan boneka anak perempuan berambut panjang dengan tampilan gaya busana yang cukup gaul. Tidak seperti umumnya boneka anak perempuan lainnya yang didesain dengan mengenakan gaun-gaun cantik layaknya princes, Selly justru menggunakan outfit yang kekinian. Ia mengenakan outer serta menggunakan sepatu cats yang membuat penampilan boneka ini semakin terlihat sporty.
“Nama Selly itu dari guru yang melatih siswa kami untuk membuat boneka,” kata Adi Indra Prasetyo, Kepala SLB Eka Mandiri, saat acara Pameran Konsolidasi Nasional Pendidikan Dasar dan Menengah (Konsolnas Dikdasmen) 2026 di Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kemendikdasmen, Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat.

Menurut Adi Indra, sebelum membuat boneka Selly, ia bertemu dengan Selly yang memang berprofesi sebagai pembuat boneka. Selly banyak memberikan keterampilan, termasuk bagi para narapidana di sejumlah lembaga pemasyarakatan.
“Saya kemudian mengajak Ibu Selly ini untuk mengajar anak-anak kami yang untuk membuat boneka,” tambah Adi Indra.
Awalnya, Selly sempat ragu untuk mengajar anak-anak disabilitas. Namun, saat latihan pertama, Selly justru langsung tertarik untuk terus berbagai ilmu tentang pembuatan boneka.
“Untuk menghargai jasa Bu Selly ini kami kemudian menamai boneka ini dengan Boneka Selly,” Adi menambahkan.
Karena ada sentuhan langsung dari profesional, para murid ini benar-benar bisa membuat boneka secara profesional. Mereka benar-benar menghitung panjang kaki, lingkar kepala, panjang rambut, dan sebagainya agar boneka benar-benar presisi dan ideal, termasuk bagaimana cara mengisi boneka agar proporsional.
“Ukuran lingkar kepalanya berapa, lakinya berapa bagian mana yang harus dipadatkan dan sebagainya,” tambah Adi

Hal yang paling membanggakan dari boneka Selly ini adalah boneka ini telah menarik minat buyer dari luar negeri, salah satunya dari Singapura. Salah satu instansi lembaga yang berbasis di Singapura meminta produk boneka Selly.
“Jadi, kami kirim setiap bulan boneka ini ke Singapura, tapi sistemnya beli putus. Jadi, mereka membeli produk kami, kemudian diberi nama sendiri dari pihak pembeli,” ujar Adi.
Namun belakangan, kerja sama ini kemudian diputus sepihak oleh pihak sekolah. Hal ini setelah pihak buyer sama sekali tidak memberikan penjelasan terkait proses dan siapa saja yang ada di balik pembuatan boneka ini.
“Jadi, SLB kami sama sekali tidak disebutkan. Jadi, seperti diklaim bahwa ini adalah produk mereka saja. Jadi, kami putuskan kontrak setelah hampir 2 tahun,” tambah Adi.
Meskipun tak lagi mengirim boneka ke Singapura, Selly ternyata malah mendapatkan banyak pembeli lain dari sejumlah negara, seperti dari Australia dan beberapa negara lainnya.

Selain itu, popularitas boneka Selly karya anak SLB ini juga banyak mendapat apresiasi dari dalam negeri, salah satunya dari Kementerian Sosial yang menggunakan boneka Selly sebagai salah satu cendera mata saat peringatan Hari Disabilitas.
“Jadi, kami diminta Kementerian Sosial untuk menyiapkan 100 pieces boneka saat Hari Disabilitas 2025 lalu, kemudian dari Pemprov Jawa Timur juga. Dan dari banyak instansi lainnya,” Adi menambahkan.
Sumber: vokasi.kemendikdasmen.go.id




