Kisah Pasangan Suami Istri Dedikasikan Hidup untuk ABK

Jakarta, Ditjen Vokasi PKPLK – Dua sekolah luar biasa (SLB) di daerah Karanganyar, Jawa Tengah berhasil direvitalisasi melalui program Revitalisasi Satuan Pendidikan tahun 2025. Uniknya kedua sekolah tersebut dirintis oleh pasangan suami istri, Muhammad Fajar  dan Ita Sulityowati yang sama-sama memiliki kecintaan pada guru honorer. 

Sebelum dikenal sebagai kepala sekolah, baik Fajar maupun Ita, merupakan guru honorer di sebuah SLB di wilayah Karanganyar. Namun, saat itu kegelisahan akan model pembelajaran yang cocok bagi ABK dirasa berbeda dengan sekolah tempat mereka mengabdi. 

“Kami tidak leluasa untuk mengimplementasikan apa yang ada di pikiran kami untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Jadi, kami pikir kami harus memiliki sekolah sendiri agar bisa memberikan pembelajaran seperti yang kami inginkan,” kata Ita, beberapa waktu lalu.

Selain itu, keputusan besar merintis SLB didasarkan pada data faktual dari penelitian yang mereka lakukan semasa kuliah. Fajar dan Ita menemukan kesenjangan besar di empat wilayah terpencil Karanganyar, yang disebut 4J, yakni Jumapolo, Jatipuro, Jatiyoso, dan Jumantono.

Sekolah terdekat saat itu adalah SLB Negeri Karanganyar, dengan jarak tempuh hampir 25 km, atau sekitar 40 menit perjalanan. Jarak ini menjadi hambatan besar bagi orang tua dan ABK.

“Ternyata di daerah 4J ini sama sekali tidak ada SLB waktu itu, puluhan tahun tidak ada. Berdasar data bahwasannya di daerah 4J ini ada lebih dari 120 ABK,” jelas Ita.

Akhirnya, pada 2017 Ita dan Fajar memberanikan diri untuk mendirikan SLB. Awalnya satu SLB, yakni SLB Mandiri Putra Jumapolo, lalu kemudian berkembang dengan mendirikan SLB Mandiri Putra Jatipuro. Kedua sekolah tersebut menyediakan pendidikan untuk anak disabilitas dari jenjang SD hingga SMA.

Total kedua sekolah tersebut memiliki 75 siswa dan 16 orang guru. Sebanyak 60 siswa bersekolah di SLB Mandiri Putra Jumapolo dan ada 15 siswa di Jatipuro. 

“Alhamdulilah, tahun 2025 sekolah kami mendapat bantuan program Revitalisasi yang berdampak besar bagi sekolah kami,” kata Ita. 

Di kedua sekolah tersebut, program pendidikan bagi anak berkebutuhan khususnya lebih menekankan pada pendidikan vokasional, selain juga pelajaran umum. Dalam perkembanganya, SLB Mandiri Putra di Jumapolo menjadi mercusuar pendidikan inklusi di wilayah yang puluhan tahun tanpa akses SLB, terlebih pasca-sekolah ini direvitalisasi melalui program Revitalisasi Satuan Pendidikan.

Sumber: vokasi.kemendikdasmen.go.id