Jakarta – Di era digital saat ini, koding menjadi keterampilan yang semakin penting untuk dikuasai sejak dini, tanpa terkecuali untuk anak berkebutuhan khusus (ABK). Dengan metode yang tepat, koding dapat menjadi aktivitas yang tidak hanya bersifat edukatif, tetapi juga meningkatkan kreativitas dan keterampilan berpikir logis ABK, utamanya anak dengan hambatan intelektual.
Guru SLBN 2 Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Eni Wulandari, mengatakan bahwa di sekolahnya pembelajaran koding bagi anak dengan hambatan intelektual lebih menekankan tentang mengajarkan cara berpikir, bukan tentang sintaks bahasa pemrograman.

“Pembelajaran koding membekali anak dengan hambatan intelektual dengan cara berpikir yang terstruktur dan mandiri. Koding dimanfaatkan sebagai media stimulasi kognitif anak,” kata Eni yang juga merupakan pengembang koding dan kecerdasan artifisial (KA) Google Indonesia.
Menurut Eni, koding diterapkan untuk membantu anak dalam pemahaman mengenai visualisasi konteks abstrak, yaitu mengubah logika menjadi benda konkret yang dapat disentuh atau digeser.
“Misalnya, anak down syndrome diminta untuk mengikuti langkah-langkah mencuci tangan, maka diberikan bantuan urutan gambar untuk mencuci tangan,” ujar Eni.
Selain itu, contoh lain, lanjut Eni, adalah saat anak diminta untuk mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas maka urutan kegiatan pembelajaran dapat disajikan melalui visual schedule. Dengan demikian, mereka mampu memahami kegiatan apa saja yang dilakukan
Pembelajaran koding pada ABK juga berperan dalam prediktabilitas, artinya koding memberikan rasa aman kepada anak karena mereka mudah untuk memahami sebab akibat yang akan mereka hadapi.
“Jika saya memutar kran maka air akan mengalir, saya dapat mencuci tangan atau jika saya menyelesaikan tugas menulis, saya dapat bermain. Jadi lebih para membantu cara berpikir mereka,” Eni menambahkan.

Terakhir, koding juga dapat membantu untuk menumbuhkan rasa keberdayaan ABK, di mana anak-anak memiliki kontrol penuh terhadap tindakan yang akan dilakukannya. Eni mencontohkan, koding dapat membantu anak menyusun sendiri kegiatan pembelajaran sesuai dengan keinginannya di dalam kelas serta dia dapat memahami tanggung jawab serta konsekuensi dari apa yang telah mereka lakukan.
Sementara itu, terkait dengan pemanfaatan, menurut Eni, hal ini mengacu pada beberapa aspek diantaranya untuk computational thinking, yaitu mengajarkan anak untuk memecahkan masalah secara sistematis.
“Pembelajaran koding juga membantu ABK dengan hambatan intelektual untuk pengenalan pola. Koding membantu anak mengenali rutinitas atau kesamaan dalam masalah sehingga mereka dapat menerapkan pada situasi yang baru,” tambah Eni.
Sumber: vokasi.kemendikdasmen.go.id




