Aceh Tamiang, Ditjen Vokasi PKPLK – Di tengah keterbatasan sarana prasarana sekolah yang belum sepenuhnya pulih akibat bencana, SLBN Pembina Aceh Tamiang tetap bersemangat menyelenggarakan layanan pendidikan. Layanan pendidikan yang disebut sebagai “Ruang Harapan” ini, bahkan tidak hanya melayani anak SLB, tetapi juga anak-anak pengungsi di sekitar lokasi sekolah.
Wakil Kepala SLBN Pembina Aceh Tamiang Bidang Kurikulum, Budi Gunawan, menyampaikan bahwa kegiatan belajar mengajar melalui Ruang Harapan ini merupakan hasil kolaborasi antara pihak sekolah dengan komunitas pemuda-pemudi Aceh Tamiang. Inisiatif tersebut dilakukan karena sudah lebih dari satu bulan, anak-anak di daerah tersebut, termasuk anak SLB, tidak bisa belajar ke sekolah dan mendapatkan pendidikan.
“Kebetulan dari pihak komunitas mengajak kami untuk menyelenggarakan pembelajaran darurat agar anak-anak, baik anak SLB maupun anak-anak yang ada di pengungsian memiliki aktivitas karena beberapa sekolah di sini memang belum siap untuk menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar,” kata Budi.
Gayung bersambut, menurut Budi, pasca-bencana banyak murid SLB yang sudah ingin kembali sekolah. Beberapa orang tua juga menanyakan kapan sekolah kembali dibuka. Namun, kondisi sekolah sendiri masih belum memungkinkan akibat kerusakan yang cukup parah dan endapan lumpur yang sangat tebal.
“Tiap hari ada satu atau dua siswa kami yang ikut belajar di ruang harapan. Sisanya banyak juga anak-anak pengungsi disekitar yang ikut belajar. Mereka senang,” Budi menambahkan.

Untuk para pengajarnya berjumlah sekitar enam orang yang merupakan para mahasiswa asal Aceh Tamiang yang saat ini sedang pulang kampung. Umumnya mereka sedang menuntut ilmu di luar Aceh Tamiang, seperti Banda Aceh, Medan, hingga Yogyakarta. Karena bencana, mereka kembali ke Tamiang dan bergabung sebagai relawan.
“Selain para mahasiswa, guru SLB juga dilibatkan untuk menangani siswa SLB-nya,” tambah Budi.
Untuk belajar, Ruang Harapan memanfaatkan area terbuka di sisi bagian depan sekolah yang sedikit lebih tinggi dari tempat lainnya. Pihak sekolah terlebih dahulu membersihkan area tersebut dari lumpur sebelum akhirnya digunakan sebagai tempat belajar.
Kepala SLBN Pembina Aceh Tamiang, Supranata, menyampaikan hingga awal semester genap 2026, pihaknya memang belum bisa menyelenggarakan layanan pendidikan secara normal. Hal tersebut karena kondisi sekolah yang rusak parah dan lumpur yang masing sangat tebal.
Selain kondisi ruang kelas yang rusak dan penuh lumpur, akses di dalam sekolah juga masih sulit, apalagi bagi anak berkebutuhan khusus karena masih berlumpur dan genangan di mana-mana.
“Seluruh ruang keterampilan dan alat-alat belajar termasuk mesin cetak braille kami juga terendam banjir dan rusak, termasuk IFP,” kata Supranata.

Meskipun demikian, Supranata tetap bertekad untuk melayani para murid-muridnya. Pihak sekolah berencana untuk melakukan home visit untuk memastikan pendidikan bagi para murid-murid.
Nazilatuh merupakan salah satu siswa yang ikut kegiatan belajar darurat tersebut. Nazila mengaku senang bisa kembali belajar dan bertemu teman-temannya.
“Saya rindu teman bermain dan teman-teman,” kata Nazilatul.
Sumber: vokasi.kemendikdasmen.go.id




