Badung, Ditjen Vokasi PKPLK – Menari menjadi salah satu keterampilan yang banyak diajarkan di sekolah luar biasa (SLB). Selain menyenangkan, menari juga memiliki banyak manfaat untuk anak berkebutuhan khusus (ABK). Lantas, bagaimana mengajar ABK menari?
Lelyn Ernawati, guru tari di SLBN 1 Badung, Bali, mengatakan bahwa mengajarkan tari kepada ABK nyaris sama dengan mengajarkan tari kepada anak-anak umumnya. Akan tetapi, pada ABK perlu metode atau cara-cara yang juga khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan ABK itu sendiri.
“Seni tari itukan melibatkan banyak hal mulai dari gerakan tubuh, irama musik, atau bunyi-bunyian, yang semuanya harus terorganisasi dan teratur. Itu memang yang menjadi tantangan saat mengajar tari pada anak-anak ABK,” kata Lelyn.
Namun, bukan berarti menari tidak bisa diajarkan kepada ABK. Bahkan, menurut Lelyn, menari justru menjadi keterampilan yang cukup banyak diminati, termasuk di SLBN 1 Badung, Bali.
“Siswa kami di sini banyak yang ikut keterampilan menari. Kami sudah banyak tampil di acara-acara besar, termasuk di undang ke Jakarta juga sudah beberapa kali,” tambah Lelyn.
Menurut Lelyn hal pertama yang harus diperhatikan saat mengajarkan tari kepada ABK adalah memahami kondisi atau kebutuhan dari ABK tersebut.
Biasanya, sebelum mengajar Lelyn akan melakukan asesmen kepada pada siswanya terlebih dahulu. Asesmen dilakukan untuk mengetahui kemampuan dan kondisi siswa. Hal ini penting dilakukan untuk menentukan langkah selanjutnya yang akan dilakukan.
“Kita akan kelompokkan dulu berdasarkan hambatan yang mereka miliki serta kemampuan mereka. Misalnya, apakah anaknya ini hambatan pendengaran, down syndrome, dan sebagainya,” kata Lelyn.
Pengelompokan ini akan menentukan metode latihan yang akan diberikan. Misalnya, untuk anak tunarungu tentu saja guru harus menyiapkan ketukan-ketukan hitungan dari setiap gerakan yang dilakukan.
“Sementara, kalau anak tunagrahita itu artinya setiap gerakan harus diulang-ulang karena daya ingat mereka kan pendek sekali,” tambah Lelyn.
Dalam pembelajaran Lelyn biasa menggunakan beberapa metode pembelajaran, yaitu demonstrasi, olah vokal, tanya jawab, mengolah teknik pernafasan, latihan terus menerus atau dril metode imitasi, dan metode pengulangan.
“Metode demonstrasi ini efektif diterapkan, khususnya untuk anak dengan hambatan tuli karena keterbatasan untuk berkomunikasi. Jadi, mereka cenderung melihat dan menirukan,” kata Lelyn.
Semetara itu, untuk latihan dril atau latihan berulang-ulang ini cocok untuk anak-anak hambatan intelektual. Rata-rata mereka memerlukan latihan berulang-ulang karena dalam pembelajaran seni tari ini perlu mengingat waktu memulai tarian harus selaras dengan iringan.
Sumber: vokasi.kemendikdasmen.go.id




