Jakarta, Ditjen Vokasi PKPLK – Kemudahan mengakses pendidikan merupakan anugerah besar bagi anak-anak pekerja migran Indonesia (PMI) yang lahir dan besar di Malaysia. Namun, di tengah berbagai keterbatasan yang dihadapi, mereka kini bisa menikmati akses pendidikan dasar 13 tahun, bahkan hingga perguruan tinggi, salah satunya dengan hadirnya Pendidikan Jarak Jauh (PJJ).
Andi merupakan salah satu anak pekerja migran Indonesia yang merasakan langsung manfaat PJJ yang diselenggarakan di Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK). Dengan PJJ, Andi tidak hanya bisa menuntaskan wajib belajar 13 tahun dan memperoleh ijazah SMA, ia bahkan bisa melanjutkan ke perguruan tinggi melalui beasiswa Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADIK).
“Saya sekarang mahasiswa Program Pendidikan Ekonomi di Unsri (Universitas Sriwijaya). Sudah semester dua,” kata Andi.
Andi merupakan anak kelima dari tujuh bersaudara. Ia lahir dan besar di sebuah perkampungan pekerja sawit di daerah Sabah. Kedua orang tuanya merantau dari Sulawesi Selatan ke Sabah sebagai pekerja kebun sawit.
Di keluarganya, baru Andi yang berhasil menuntaskan pendidikan dasar 13 tahun. Kedua adiknya masih bersekolah di Community Learning Centre (CLC) yang berada tak jauh dari rumah mereka di Lahad Datu, Sabah. Sementara itu, kakak-kakaknya tidak ada satupun yang berhasil menyelesaikan pendidikan dasar 13 tahun karena keterbatasan akses pendidikan.
“Kalau tidak ada PJJ, mungkin saya juga tidak bisa sekolah karena jarak dari rumah ke SIKK itu jauh sekali. Sekitar sembilan jam perjalanan menggunakan bus,” terang Andi.
Andi mengaku terbantu dengan adanya PJJ. Meskipun berkeinginan melanjutkan pendidikan, Andi tidak yakin bisa menyelesaikannya, terlebih hingga perguruan tinggi. Pasalnya, selain akses pendidikan yang sangat terbatas, Andi juga tidak memiliki dokumen kependudukan resmi yang membuatnya semakin sulit untuk mendapatkan pendidikan. Andi juga harus membantu kerja orang tuanya di ladang sawit.

“Dari SMP saya sudah bantu petik sawit. Kemudian, setelah selesai CLC, ada guru yang menawari saya untuk ikut melanjutkan ke SMA PJJ. Saya tetap bisa belajar dari rumah dan tetap bisa membantu orang tua, tapi saya juga bisa menyelesaikan pendidikan SMA yang menjadi modal untuk melanjutkan ke perguruan tinggi,” terang Andi.
Usai menyelesaikan SMA PJJ tahun lalu, Andi kemudian ditawari mengikuti seleksi beasiswa ADIK agar bisa melanjutkan ke perguruan tinggi. Andi memilih Universitas Sriwijaya karena ia tertarik dengan budaya Sumatra.
“Saya dibantu guru dari SIKK untuk mengurus semua dokumen kependudukan sampai akhirnya saya bisa kuliah di Unsri saat ini,” kata Andi yang bercita-cita kembali ke Sabah dan menjadi guru untuk anak-anak pekerja migran di sana.
Andi berharap, keberadaan PJJ dapat membuka akses pendidikan bagi lebih banyak anak-anak pekerja migran Indonesia di Malaysia seperti dirinya.
“Karena dengan PJJ, semua anak pekerja migran Indonesia seperti di Sabah ini bisa mengakses pendidikan dari mana saja, tanpa perlu meninggalkan rumah dan tetap bisa membantu orang tua di ladang sawit,” ujar Andi.
Sebagai informasi, Kementerian Pendidikan Dasar Dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus secara resmi meluncurkan Uji Terap Penyelenggaraan Program Pendidikan Jarak Jauh di SIKK sebagai sebuah pilot project pada tahun 2025 lalu. Tahun ini praktik baik program PJJ di SIKK rencananya akan diaplikasikan ke sejumlah provinsi untuk meningkatkan akses layanan pendidikan dan mengurangi angka anak putus sekolah di Indonesia.
Sumber: vokasi.kemendikdasmen.go.id




