Jakarta, Ditjen Vokasi PKPLK – Libur Hari Raya Idulfitri 2026 masih menyisakan beberapa hari lagi. Meskipun masih dalam suasana liburan, tidak ada salahnya bagi orang tua untuk mulai mengajak putra-putri mereka belajar agar mereka tidak kehilangan ritme belajar dan dapat kembali fokus saat nanti masuk sekolah. Utamanya bagi anak-anak berkebutuhan khusus (ABK).
Mengapa anak-anak kebutuhan khusus perlu mengulang kebiasaan dan belajar selama libur lebaran yang cukup panjang ini? Angga Pratama Armadi Putra, guru pendamping khusus dari Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Pekalongan, Jawa Tengah, mengatakan bahwa anak-anak kebutuhan khusus, utamanya seperti anak down syndrome, memiliki memori yang lebih pendek. Karena itu lah mereka memerlukan pembiasaan-pembiasaan yang harus dilakukan secara konsisten, termasuk belajar selama musim liburan.
“Mendidik peserta didik dengan kebutuhan khusus memerlukan sekali konsisten dalam segala hal karena konsep yang didapat oleh mereka adalah pola pembiasaan, bagi mereka diberikan contoh berulang ulang mungkin belumlah cukup hingga itu perlu pembiasaan secara konsisten agar mereka dapat memahami suatu hal dan tidak kehilangan apa yang sudah dipelajari, termasuk saat liburan,” kata Angga.
Lantas, bagaimana cara yang efektif agar anak berkebutuhan khusus ini dapat tetap menikmati masa liburan mereka namun tanpa kehilangan rutinitas atau ritem belajar? Menurut Angga, agar semangat belajar anak tidak hilang saat libur Lebaran, ada beberapa tip yang bisa dilakukan oleh orang tua.
Pertama, menurut Angga, adalah dengan membuat jadwal harian yang seimbang, yakni antara bermain dan belajar ringan. Orang tua tidak hanya dengan membuka buku atau menggelar papan tulis di rumah, tetapi cukup dengan aktivitas-aktivitas kecil.
“Misalnya dengan menggunakan permainan di rumah, atau membaca ringan,” kata Angga.
Menurut Angga, penting untuk menjaga dan menyeimbangkan ritme harian anak-anak. Hal tersebut mencakup waktu istirahat, bermain, dan belajar, agar anak tetap memiliki struktur aktivitas harian.
“Misalnya saja, orang tua bisa menerapkan target yang ringan, seperti membaca 15 menit atau mengerjakan satu kuis agar materi yang dipelajari sebelumnya tidak terlupakan,” kata Angga.
Meskipun harus tetap belajar, sebaiknya orang tua tidak perlu harus terlalu memaksa anak, terlebih saat anak terlihat mulai kelelahan.
“Jadi, perhatikan juga kondisi anak. Kalau misalnya anaknya sangat lelah, sebaiknya jangan terlalu dipaksakan,” tambah Angga.
Orang tua, lanjut Angga, bisa memulai dengan materi-materi yang menjadi favorit atau kegemaran anak sehingga anak merasa senang dan termotivasi.
“Tidak lupa untuk memberikan apresiasi kepada anak saat berhasil menyelesaikan sebuah tugas dalam sesi belajar,” ujar Angga.
Sumber: vokasi.kemendikdasmen.go.id




